Sebenarnya
sudah lama saya ingin menulis tentang hal ini, tapi terkendala pada
keraguan dan kebingungan, saya masih kurang berani. Tapi dipikir-pikir,
suatu pendapat kalau tidak dikemukakan maka tidak akan pernah diketahui
benar salahnya. Jadi, it’s just my opinion. Mohon dibenarkan kalau pendapat saya agak menyimpang. J
Jika kita mengklik di search engine nya Mbah Google “jilbab punuk unta”
maka akan keluar sederet artikel ataupun tulisan yang mengulas
bagaimana sebenarnya rupa dari jilbab punuk unta. Anda tentu kenal unta,
bukan? Hewan padang pasir ini memiliki gundukan di punggungnya,
lazimnya disebut punuk. Kadang punuknya cuma satu atau dua. Tergantung
dari jenis unta tersebut.
Unta berpunuk satu/google.com
Lalu,
apa meaning dari jilbab punuk unta? Saya pun akhirnya ikutan penasaran.
Tapi rasanya tidak etis kalau saya hanya membenarkan pendapat tanpa
mencari lebih dahulu fakta dan sumbernya. So, mari kita mulai riset kita
dari Maktabah Syamilah. Maktabah Syamilah adalah sebuah software yang
berisi ribuan kitab hadits. And the research is starting…
Pertama, saya mencari isi teks (matan)
hadits dari sumber asli. Dan ini saya dapatkan di Shahih Muslim. Imam
Muslim adalah Imam kedua dalam deretan ulama hadits yang diakui
keabsahannya setelah Imam Bukhari.
حدثني
زهير بن حرب حدثنا جرير عن سهيل عن أبيه عن أبي هريرة قال: قال رسول الله
صلى الله عليه و سلم صنفان من أهل النار لم أرهما قوم معهم سياط كأذناب
البقر يضربون بها الناس ونساء كاسيات عاريات مميلات مائلات رؤوسهن كأسنمة البخت المائلة لا يدخلن الجنة ولا يجدن ريحها وإن ريحها لتوجد من مسيرة كذا وكذا
Hadits
ini bercerita tentang dua golongan ahli neraka yang Rasulullah tidak
pernah melihatnya. Pertama, golongan kaum yang memiliki cambuk seperti
ekor sapi yang digunakan untuk mencambuk manusia. Golongan kedua adalah
kaum wanita yang berpakaian tetapi telanjang, kemudian jalannya
berlenggak-lenggok, kepala mereka bagaikan punuk unta. Kedua
golongan ini tidak akan masuk surga, bahkan mencium bau surga pun
tidak, padahal bau surga bisa dicium dari jarak yang sangat jauh.
Stressing kita terdapat pada رؤوسهن كأسنمة البخت atau kepala bagai punuk unta. Apa langkah pencarian selanjutnya? Ke mana lagi kalau bukan kepada syarah
atau penjelas dari suatu hadits. Untuk syarah Shahih Muslim salah
satunya yang paling terkenal ada di Syarah Shahih Muslim karya Imam
Nawawi. Di sini dijelaskan:
( رؤوسهن كأسنمة البخت ) معناه يعظمن رأسهن بالخمر والعمائم وغيرها مما يلف على الرؤوس حتى تشبه أسنمة الإبل
( في اللسان البخت والبخيتة دخيل في العربية أعجمي معرب وهي الإبل
الخراسانية تنتج من عربية وفالج والفالج البعير ذو السنامين وهو الذي بين
البختي والعربي ) والمراد بالتشبيه بأسنمة البخت إنما هو لارتفاع
الغدائر فوق رؤوسهن وجمع عقائصها هناك وتكثرها بما يضفرنه حتى تميل إلى
ناحية من جوانب الرأس كما يميل السنام(
Nah, akan saya coba jelaskan satu persatu. Untuk kalimat pertama yang dibold kurang
lebih maknanya ialah golongan wanita yang memperbesar kepala mereka
dengan jilbab, serban atau yang lain dengan sesuatu yang ada di kepala
mereka sehingga menyerupai punuk unta.
Selanjutnya,
bagaimana cara memperbesar kepala sehingga menyerupai punuk unta? Dalam
kalimat kedua yang dibold bermakna bahwa yang dimaksud menyerupai ialah
mengangkat (menggelung) kepangan/jalinan rambut di atas kepala sehingga condong kepada salah satu bagian sampai akhirnya seperti punuk unta.
Hmmm… Di sini lah masalahnya. Sudah menjadi trend atau fashion
bagi dunia muslimah sekarang, jilbab yang berupa-rupa maknanya. Hingga
tidak asing lagi keluar ungkapan, ‘berjilbab tetap modis’, ‘keren tapi
syar’i’ dan lain-lain. Padahal seringkali trend itu tidak mengindahkan
aturan yang ada pada Islam sendiri.
Kembali ke masalah ‘jilbab punuk unta’, apakah Anda setuju dengan saya kalau jilbab seperti ini bagaikan punuk unta?
Rekaan Jilbab Punuk Unta/google.com
Dan,
akhirnya begitulah pemahaman saya. Sangat diharapkan kritik dan
sarannya bagi para Pembaca yang notabene pasti lebih berpengetahuan
daripada saya. Dan sekedar mengingatkan kembali pada
konteks hadits di atas, bahwa Rasulullah sendiri telah bersabda, bahwa
jaminan dua golongan tersebut adalah tidak mencium bau surga, apalagi
masuk.
Finally, wallahu ‘alam….
Dan Allah lah yang Paling Mengetahui…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar